Kamis, 18 Juli 2013

Cerita Orientasi



Maaf jika aku sudah sangat lancang, berani menulis ini. Maaf jika yang kuutarakan ini malah membuatmu tidak bersimpati padaku. Aku hanya ingin membeberkan yang selama ini terpendam, yang beberapa minggu ini menyita pikiranku, yang selalu membuat pikiranku berlabuh kemana-mana, aku hanya ingin semua beban lepas, aku hanya ingin lega.

Mungkin kamu bertanya, atas dasar apa aku menulis ini? Aku tidak bisa tidur, aku gundah, aku gelisah, aku galau. satu persatu banyangmu silih berganti memenuhi pikiranku. Waktuku, pikiranku semua habis tersita olehmu. Aku pun bingung, bisa-bisanya aku begini.

Semua bermula pada hari itu. Masa orientasi baru saja dimulai dengan murid-murid kelas sepuluh baru yang masih memakai seragam putih biru. Muka-muka kami ketakutan bercampur dengan rasa bingung karena harus beradaptasi dengan lingkungan baru kami. Baris-berbaris, dijemur di lapangan, bentakan sana-sini oleh panitia yang lain.

Aku pertama kali melihatmu sewaktu seorang guru bp memanggil namamu untuk maju ke podium. Kamu dipanggil untuk mencontohkan seragam yang benar dan lengkap. Kamu membuka topi abu-abumu sehingga terlihat rambutmu terlihat dengan jelas. Kamu tersenyum ke arah kami, ke arah adik-adik kelasmu, ke arah kelas sepuluh yang baru. Behelmu terlihat jelas sewaktu kamu tersenyum. Manis, tapi aku tidak tertarik. Atau belum, mungkin.

Aku ingat saat itu hari kedua orientasi. Hari Selasa. Kami, anak-anak kelas sepuluh baru dipusingkan dengan tugas membuat surat cinta yang akan diberikan kepada panitia orientasi kelas sebelas dan dua belas. Ada beberapa nama orang kakak kelas kelas panitia yang singgah dalam benakku namun aku segera menepisnya. Rasanya hatiku tidak pas walaupun surat itu hanya untuk candaan.

Aku masih memikirkan hal itu ketika bersiap untuk pulang. Ketika aku berjalan menyusuri pelataran parkir sekolah, aku melihat kakak-kakak panitia berjejer di sana, mengawal kami pulang. Kami menyapa kakak kakak panitia, dan ketika aku melewatimu, kamu tersenyum dan mengangguk padaku. Saat itulah hatiku mantap bahwa kamulah yang akan kukirimi surat tersebut. aku tidak tahu apa alasannya, ide itu tiba-tiba tercetus begitu saja.

Maka saat malam harinya aku begadang menulis surat itu, berusaha agar isi surat itu tidak terkesan bodoh dan berlebihan. Sempat ada ragu ketika aku akan menulis namamu pada amplop berisi surat itu, namun toh aku tidak punya pilihan lain. Dengan debaran jantung yang aneh serta tangan gemetar aku menulis namamu dengan perlahan pada bagian depan amplop itu. Dan perlahan-lahan aku merasakan hatiku menghangat.

Besoknya, ketika hari terakhir masa orientasi kamu tampil bersama teman-teman ekskulmu. Bermain drama islami dan menyanyi karena baru aku tau hari itu kamu bergabung dalam rohis dan paduan suara. Kamu memerankan seorang peran dan membuat kami khusunya kelas aku tergelak. kamu tersenyum di sana, behelmu kembali terlihat. Hatiku berdesir aneh, ada apa sebenarnya? ketika kamu bernyanyi aku bisa mendengar suaramu dengan jelas. Berat dan... ah sungguh, aku ingin sekali mengobrol bersamamu agar aku bisa terus-terusan mendengar suaramu. Karena tidak seperti panitia yang lain yang banyak berbicara, kamu lebih banyak diam dan tersenyum. Bahkan saat kakak kakak panitia memarahi kami, kamu hanya memperhatikan sambil tersenyum.

Mulai saat itu aku lebih sering memperhatikanmu. Mencuri-curi pandang ke arahmu dan buru-buru menundukkan pandangan ketika kamu menatap ke arahku. Aku mengepalkan tanganku, tidak kuasa menahan letupan bahagia ketika melihat senyum yang singgah di wajahmu. Tersenyum ketika mengetehaui kamu berdiri tidak jauh dariku di lapangan ketika sedang baris berbaris. degupan jantung yang tidak beraturan ketika aku lewat di hadapanku. Semuanya. Sebenarnya aku ini kenapa?

Kaetika bersalam-salaman pada hari terakhir masa orientasi pun aku menundukkan pandangan dalam-dalam, menutupi nametag yang tersampir di leherku hanya agar kamu tidak tahu namaku. Aku malu dan dengan sekejap erythrophobia menyerangku, membuat semu merah muda menjalar di pipiku. Dan kamu harus tau ketika tangan kita bersentuhan, rasanya aku hampir tidak bisa berdiri, aku ingin jatuh, duduk ke tanah.

Aku lebih sering online social media, mencari-cari namamu diantara milyaran nama pengguna social media yang lain hanya untuk mengetahui kabarmu, hanya untuk mengetahui apa yang kamu tulis dan rasakan, hanya untuk memuaskan rasa penasaranku.

Dan hanya untuk sakit hati ketika aku mengetahui bahwa kamu sudah memiliki seseorang yang mengisi hati kamu. Hey, mengapa rasanya begitu perih? Mengapa air mata tiba-tiba menitik? Sudah, cukup. Aku mengerti jawabannya. Perasaan ini tumbuh begitu cepat, tanpa sempat aku menyadarinya sehingga aku sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk mencegahnya. Tidak memiliki kesempatan untuk menyadarkan diri sendiri bahwa aku tidak bisa lebih jauh memendam rasa padamu.

Aku merasa begitu bodoh dan malu. Siapa aku ini hahahaha, berani-beraninya berharap pada kakak kelas sepertimu yang sudah jelas-jelas memiliki segala sesuatunya untuk dikagumi. Bukan hanya aku pasti yang menaruh rasa terhadapmu, dan aku tau aku sama sekali tidak layak.

Kamu yang anak rohis, anak paduan suara. Kamu yang berbehel, kamu yang selalu berjalan dengan jari jari digenggam di punggung, kamu yang memakai jam tangan hitam di pergelangan tangan kiri, kamu yang berbadan tinggi. Panitia kalem yang selalu tersenyum, yang memiliki senyum yang sulit membuatku bernapas dengan lancar, yang selalu tertawa di ujung panggung bersama panitia lainnya. Yang membuatku selalu mengharap, yang membuatku tidak bisa tidur. yang telah memonopoli pikiranku. Ah, semua tentang kamu tidak akan pernah ada habisnya.

Setiap hariku rasanya tidak menyenangkan. Tolong jangan membuatku uring-uringan dengan tidak menunjukkan kehadiranmu. Dapat melihat wajahmu saja aku sudah bahagia, sudah cukup. Aku tidak berhak untuk mengharap lebih, aku bukan siapa-siapa kamu. Walaupun aku sadar setiap harinya dadaku sesak dipalu rasa dan rindu. Biarkan aku yang merasakan sakitnya dan wajahmu, kehadiranmu, satu satunya obat bagi sakit hatiku.

Bolehkah aku tetap berdiri di sini? Menunggu kamu untuk berbicara padaku? Sambil tetap mengagumimu dalam diam.

Senin, 13 Mei 2013

Senyuman Seorang Gadis

Lelaki itu berdiri sambil memegang bola basket yang selalu ia mainkan pada saat senggang di sekolah. Bola yang sedari tadi ia pantul-pantulkan kini hanya ia pegang. Bola basket itu tidaklah penting jika dibandingkan dengan apa yang tengah ia perhatikan saat itu..

Matanya menatap pada satu arah. Satu sosok. Seorang gadis yang tengah tertawa di ujung lapangan.

Gadis itu membuat Nathan, lelaki berambut gondrong itu urung untuk memainkan kembali benda bulat yang ada dalam genggamannya. Otak dan hatinya sama-sama memerintahkannya untuk memperhatikan gadis itu.
Entah untuk yang keberapa kalinya ia memperhatikan gadis itu. Selama ini ia hanya bisa menatapnya dengan kagum dari jauh. Hanya menatapnya saja, ia tidak mencoba untuk membuat pembicaraan yang singkat.

Gadis penuh tawa. Setidaknya itulah panggilan yang Nathan berikan pada gadis di ujung lapangan itu. Setiap Nathan memandangnya, gadis itu tampak selalu tertawa bersama teman-teman perempuannya yang lain. Hati Nathan bergetar, ingin sekali ia menjadi alasan yang membuat gadis itu tertawa dan tersenyum. Nathan ingin dirinya menjadi alasan mengapa gadis itu bahagia. Ia ingin memiliki tawa gadis itu. Nathan ingin memilikinya.

Selama ini ia terlalu takut mendekati gadis itu. Ia takut senyum gadis itu akan hilang jika ia menghampirinya. Ia takut merusak tawa gadis itu. Jadi ia memutuskan untuk tetap menatap gadis itu jauh-jauh, tidak apa jika ia tidak bisa mengenal gadis itu lebih dekat, yang Nathan inginkan hanyalah perasaan lega ketika ia masih bisa melihat tawa pada wajah gadis itu.

Suatu waktu Nathan mendapati bahwa ada seorang lelaki yang selalu berada di sisi gadis itu. Lelaki itu merangkul, memeluknya, dan membuat raut wajah gadis itu lebih berbinar daripada yang biasa ia lihat. Gadis itu memberikan senyum termanisnya pada lelaki itu, lelaki yang selalu menggenggam tangan gadis itu.

Nathan terhenyak.

Kini, apa yang bisa ia lakukan? Harapannya untuk membahagiakan gadis itu rasanya musnah sudah. Harapan bahwa ia adalah alasan gadis itu tersenyum pupus. Sekarang sudah ada orang lain di samping gadis itu yang mampu membuat gadis itu tersenyum lebih lebar. Gadis itu segalanya yang ingin Nathan miliki sekaligus yang tidak bisa Nathan miliki.

Nathan hanya bisa melakukan satu hal melihat itu semua. Tetap memandangi gadis itu diam-diam walaupun ia merasa sakit. Dadanya sesak dipalu cinta dan harapan pupus. Namun ia bahagia bisa tetap melihat senyum terukir di bibir gadis itu. Ia bahagia walaupun tidak berada di samping gadis itu. Ia bahagia walau hanya bisa menjadi pengagum yang tidak berarti bagi gadis itu.

Karena yang penting baginya adalah tetap bisa melihat senyum dan binar bahagia pada wajah gadis itu. Baginya tidak ada yang lebih membahagiakan dan membuatnya lega. Senyuman gadis itu satu-satunya hal yang bisa membuatnya merasa utuh dan sempurna.

Sabtu, 11 Mei 2013

UN oh UN.............

haai........ udh lama ga ngepost *lagian siapa yang baca* Tau deh setiap mau ngepost ada aje halangannya.
udah pengen banget menuhin blog sama keluhan-keluhan akhir-akhir ini khususnya keluhan setelah UN *mules*
WOY UN SMP UDAH AKU LEWATIN HAHAHAHA. ha ha ha.-.percaya nggak percaya tapi nyatanya aku emang woles-woles aja sih pas pelaksanaannya, bahkan pas malem seninnya tuh bukannya tidur cepet tapi malah ketawa ketawa nonton stand up comedy, memang sungguh aku murid teladan dan terpuji B-) deg-degan dan tegangnya yaaa habis pelaksanannya, gempeur nungguin hasil, mana masih lama pula keluarnya.... Pas pagi-paginya malah ngerasa lebih lapang, dianter sampe deket gerbang sekolah, didoain serasa mau kemana gitu....
Dan yang ngga dikira sama sekali tuh ternyata aku duduk di belakang hahahaha *dance* *yaterus kenapa* pas udah dibagiin soal+ljunnya rada gemeter juga sambil ngomong dalem hati "semoga ngga dapet soal yang susah" pas lagi ngecek soal, dalem hati masih mikir "initeh beneran gitu lagi un? sekarang teh un?" gataudeh konyol banget emang, awkward pisan.... udah mah pas misahin kertas soal sama ljunnya gemeter banget takut sobek plus pengen ketawa gara-gara suaranya yang mirip kentut pas disobekin, benar-benar memecah konsentrasi...
Hari pertama awalnya baik-baik aja, pas baca soalnya langsung mules, ngeblank parah, rada gayakin jugasih... tapiya berdoa aja. padahal indo tuh dulunya kerasa gampang, taudeh hari pertama absurd banget nget nget-_- terus bawaannya ngantuk aja liat bacaan yang emang lumayan panjang, disitu tuh udh males ngerjain soal, pengennya tidur telungkup aja di meja *nyantei banget lo rai, yekali soal ulangan biasa dan bukan un:"")
terus hari kedua... inggris juga lumayan absurd, nomer satunya aja udh ngecoh pisan, pas baca soal-soal selanjutnya astagfirullah... ni soal pengen dirobekin banget ya? boro-boro pengen ngisi, ngerti aja kaga:(( pulangnya langsung pada debat, nyama-nyamain kode... udah parah pisanlah pas inggris.
Pas matematika yaa lumayanlah, semoga matematika emang bisa bener diandelin. soalnya ga sesusah yang dibayangin sebelumnya, walaupun emang lumayan lieur juga sih. waktu dua jam itu rasanya gacukup buat matematika mah... eh buat semuanya ketang. udah gitu ada yang ngga nemu jawbannya lagi, somplak banget nih soal, gue udah cape-cape ngitung sampe kertas kotretan penuh ga ada jawaban yang pas lagi. sebenernya emang aku yang ngitungnya gabener apa soalnya yang salah?:") *maksa banget*
Yang bikin bener-bener bikin sangat aral banget mah pas ipalah. fisika, biologi, dua-duanya menjengkelkan. baru aja liat nomer satu soal fisika langsung narik napas, kesel pisan. baru aja pengen optimis kalo soal ipa bakal gampang, eh... taunya gampang banget :-| harkos kan tuh yang buat soal. Keselnya di ipa tuh aku belajar A yang keluar B, jauh sama prediksi deh pokoknya. akhirnya nebak-nebak aja sambil berdoa, yahabis mau gimane lagi? nyontek juga nyontek kesiapa? 20 paket coy, emang bener ya angkatan gue tuh....
pokoknya un smp ini ditutup sama ipa bikin penutupan un meriah pisan dengan segala jangarnya:""""")
Ya ngarep bangetsih satu juni nanti yang keluar bakalan air mata haru... amiin, yaharus gitu deh. gaboleh sia-sia dong perjuangan selama ini, pulang les malem, keujanan, sakit, pemantapan sampe jam tiga, pr segunung, bangun pagi pulang malem, ngerasa udah mau remuk nih badan... Tapi usaha keras ngga akan menghianati, setuju ga? *so iye banget gue haha*
Gitu deh, pokoknya lega banget udah ngelewatin un. stres-stresnya belajar, tegangnya, bayangan 20 paket soal, semua udah lewaaaat. Semoga hasilnya memuaskan sih ya... sampai bertemu nanti satu juni! kasih aku air mata kebahagiaan ya:)

Kamis, 07 Februari 2013

Untuk kamu

Kamu,
Seorang laki-laki yang duduk di belakang kursiku
Kamu,
Yang selalu menerima curahan hatiku, keluh kesahku

Kamu ingat  bagaimana awal pertemuan kita?
Dulu kita tidak pernah saling menyapa
Bertatap mata pun tidak
Kamu sibuk dengan urusanmu sendiri, aku pun begitu
Kita berada dalam satu naungan tetapi saling mengabaikan
Kita terlalu sibuk dengan diri sendiri
Pikirku saat itu, mengapa harus mempedulikanmu?
Toh, kamu hanya teman biasa
Mungkin, kamu juga berpikir sama sepertiku
Karena rasanya dulu kamu begitu asing bagiku.

Sampai akhirnya, sepertinya kita mulai saling menyapa
Aku tertawa pada setiap leluconmu
Kamu mulai bercerita banyak tentang segalanya.
Semuanya. Apa yang kamu suka dan apa yang kamu ingin kamu utarakan
Pada akhirnya, sampailah kamu pada persimpangan itu

Suatu persimpangan di mana kamu benar-benar mengaguminya
Kamu bercerita padaku tentang gadis itu
Dan selalu meminta aku untuk membantumu
Setiap kali kamu ingin berbicara tentang dia,
Kamu akan menyuruhku berputar ke belakang kursiku
Kamu mengatakan padaku bahwa kamu benar-benar mengaguminya
Aku mengerti. Semua terlihat dari binar matamu,
Dalam setiap penekanan kata-katamu ketika kita membicarakan dia
Tapi kemudian kamu harus terhempas pada suatu kenyataan
Bahwa ia lebih memilih yang lain dibanding kamu
Kamu terkoyak tetapi masih mampu untuk tertawa

Aku merasakan bahwa kita semakin dekat.....
Kita semakin sering berbagi
Aku lebih sering menjadi pendengar dan memberikan solusi
Sementara kamu dengan semangat menceritakan 'dia' yang lain
Karenanya kita semakin dekat.
Tidak, ini bukan masalah hati, sebatas teman berbagi kukira
Namun lagi, kejadian itu terulang, namun kamu masih bisa tersenyum

Akhirnya kamu menyerah sementara
Mungkin terlalu lelah dengan apa yang tidak bisa kamu genggam
Aku tidak mengerti mengapa mereka menolakmu,
Aku hanya tidak memahami, sudut manakah yang terlihat kurang darimu?

Mungkin kamu merasakan abu-abu dalam harimu
Mungkin kamu merasakan sepi yang menyelubungi
Jadi kamu semakin mendekatkan diri denganku
Karena denganku kamu bisa tertawa bebas
Itu yang kamu katakan

Hari terus berganti hari
Tanpa disadari aku semakin sering memperhatikanmu di kelas
Aku lebih sering mencari kabar tentangmu
Pendengaranku menjadi jauh lebih tajam ketika namamu disebut
Dan jantungku membuat detak-detak tak menentu
Ketika kamu ada di sampingku.

Sudah, aku mengerti. Aku bisa menyimpulkan perasaan ini.
Hanya saja aku tidak tau definisi dari apa yang aku rasakan terhadapmu
Mengapa rasanya aku begitu kesal melihat kamu jalan dengan dia?
Sudut-sudut mataku terasa panas ketika kamu bercerita
Bahwa kamu sangat menaruh kagum padanya
Aku paham. Aku mengangumimu
Dan masih tidak mengerti kenapa sampai detik ini
Aku tidak bisa melepaskan kamu dari benakku

Aku sadar, posisiku tidak lebih dari seorang pendengar
Tempat kamu mencurahkan semua tentang dia yang kamu kagumi
Aku juga cukup sadar kamu hanya menganggapku sebagai teman berbagi
Aku harus bagaimana?
Aku susah karena perasaan ini, kalau bisa mundur, aku ingin sekali mundur
Tapi kenyataan berbicara tentang kebalikannya
Bagaimanapun hati tidak bisa dibohongi
Jika kamu tau, aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk menyanggah rasa ini
Jadi, maafkan aku yang sudah sangat lancang menaruh hati padamu

Waktu berlalu, menunjukan bahwa aku benar-benar mengagumimu
Kagum pada setiap tawamu
Yang mampu membuat aku merasa lebih baik
Kagum pada kepribadianmu
Yang masih bisa tersenyum setelah kamu merasa terkoyak
Aku mengagumi semua tentangmu
Terlebih, aku selalu merasa aman dan terlindungi
Setiap aku ada di sampingmu

Tentu saja seperti orang lain, aku berangan-angan
Pada setiap coretan kata yang kugoreskan
Kutitipkan harapan, aku ingin hari-hari ke depan tetap bersamamu
Nyatanya kamu memang tetap berada di sampingku
Walaupun kita tidak pernah menjadi sesuatu yang lebih dari ini
Tidak apa, aku mengerti
Aku tidak cukup baikmu
Aku sangat mengerti jika kamu tidak membalas perasaanku
Meski setiap waktu kamu selalu di sampingku
Tetapi tidak pernah lebih
Aku menerimanya.
Kamu tidak pernah merasa yanh kurasa.
Perasaan kita rupanya berbeda.
Tak apa.

Akhirnya aku hanya bisa menyampaikan rasa terima kasihku
Sebentuk perasaan syukur yang tidak terhingga
Setidaknya aku masih mempunyai kesempatan untuk dekat dengamu
Walaupun kesempatan menjadi bagian dari hatimu yang paling penting
tidak akan pernah bisa terjadi

Entah, berapa kata yang kutulis untukmu
Semua saksi, mereka mengetahui betapa aku sangat merasakan ini
Terimakasih kamu mau singgah di sini
Walaupun hanya untuk berbagi
Terimakasih untuk mempercayaiku

Terimakasih untuk rasa kagum yang tidak pernah kamu rasakan padaku

Selasa, 29 Januari 2013

Datang lagi?

        Hari ini.... Kamu datang lagi. Kamu datang lagi pada hari-hariku, pada setiap bayangku, seolah kamu tak pernah jauh dariku. Padahal, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menolak kembali kedatangan kamu. Aku sudah berjanji untuk membatasi diri agar tidak terlalu sering mengobrol denganmu. Aku sudah berjanji untuk menjaga jarak denganmu.
        Semua gagal. Janji-janjiku tidak dapat kupenuhi. Aku telah lama berusaha mencoba menghindari perasaanku dengan mengindarimu. Namun selalu saja aku gagal. Perasaanku terlalu kuat untuk kusanggah, terlalu kuat untuk kutolak, aku terlalu lemah menghindari perasaanku padamu, Kau tahu?
         Ketika pengabaianmu terasa begitu lekat, begitu terasa, begitu menyakitkan, aku berusaha tegar dengan menjaga jarak denganmu. Aku menjauhimu karena kamu juga menjauhiku. Aku hanya merasa kamu tidak ingin terganggu olehku, jadi saat itu aku memutuskan untuk mengakhiri kedekatan kita, aku memutuskan untuk berjalan sendiri-sendiri. Kamu ke suatu persimpangan, sementara aku menuju persimpangan berbalik denganmu. Aku berusaha pergi, sejauh-jauhnya. Aku kira dengan jarak seperti ini, segalanya akan menjadi lebih baik untuk kita. Baik buatmu, juga baik buatku. Namun aku salah. Jarak ini justru memperburuk keadaan. Kamu tahu apa yang sering aku rasakan ketika kamu terasa begitu jauh padahal nyatanya kamu ada? Kamu berdiri di dekatku. Kamu nyata. Kamu ada. Tetapi aku merasa kamu begitu jauh, begitu berjarak. Aku merasakan sakit, juga rindu akan tawa yang dulu kita bagi.
        Lambat laun, aku mulai terbiasa dengan hari-hari tanpamu. Walau rasanya begitu abu-abu tanpa kamu, segalanya terasa begitu buruk jika kamu tidak ada di sampingku. Namun kukira ini yang kamu mau, jadi aku hanya berusaha menjalaninya. Aku baik-baik saja. Aku terbiasa tanpamu. Tanpa pesan singkat darimu, tanpa lelucon khas kamu, tanpa obrolan-obrolan ringan yang biasa kita lakukan, hatiku lambat laun menerimanya.
        Namun hari ini, kamu datang lagi. Kamu seperti dulu yang aku kenal, kamu penuh dengan tawa dan juga canda ketika kamu mengobrol bersamaku. Kamu kembali menatapku ketika kita berbicara, kamu tidak lagi mengabaikanku, kamu tidak lagi menjaga jarak denganku.
        Aku tidak tahu apakah aku harus senang atau sebaliknya ketika menghadapi perubahan darimu. Yang kutahu adalah aku hanya takut. Takut jika kamu tiba-tiba kembali mengabaikanku, aku takut kembali merasakan perasaan sakit, aku takut kembali menangis karenamu. Aku takut perasaan yang dulu hampir sirna itu datang kembali.
        Mengapa kamu datang kembali di saat aku sudah terbiasa tanpa kehadiranmu? Mengapa kamu datang kembali ketika aku sudah menutup pintu hatiku rapat-rapat? Seolah kamu ingin memberikan segores harapan yang dulu berusaha aku kubur dalam-dalam. Jika kamu hanya memberi harapan yang tidak kunjung menjadi nyata, aku lebih ingin kamu pergi jauh-jauh dari sisiku, sudah cukup aku merasakan sakit.
        Sekuat apapun aku meyakinkan diri sendiri bahwa aku sudah pergi dari bayang-bayang tentangmu, tetapi ketika aku melihat kembali wajahmu, berbicara denganmu, perasaan itu tumbuh kembali. Kenyataan bahwa aku masih sangat mengharapkanmu tidak dapat aku tolak.
        Kamu hanya perlu tahu satu hal, usahaku untuk menjauhimu akan terus-menerus gagal jika kamu terus-terusan datang pada setiap hariku. Jangan datang jika niatmku hanya untuk menambahkan lukaku, jangan datang jika kamu hanya ingin menjatuhkanku lebih keras.
        Tapi lepas dari itu semua, aku masih mengharapkanmu.

Sabtu, 26 Januari 2013

Maaf, Aku Terlalu Berharap

        Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku. Pada kamu. Pada kita. Mengapa rasanya semua berjalan begitu cepat. Tiba-tiba saja Kamu sudah menyita seluruh isi pikiranku. Tiba-tiba saja hadirnya Kamu di sampingku selalu kuharapakan. Kita mulai dekat, bercanda, juga tetawa. Kamu membawa membawa perasaan lain di hatiku ketika aku menatap matamu, berbicara denganmu, Perasaan yang benar-benar membuatku nyaman, membuatku tidak ingin beranjak dari sisimu sedikitpun.
        Semua jadi terasa berbeda karena hadirnya kamu. Hitam dan putih yang biasanya mengisi hari-hariku terasa lebih berwarna, lebih hidup ketika kamu hadir untuk menggenapkan ruang-ruang kosong yang di selubungi kesepian di hatiku. Obrolan-obrolan ringan yang kita jalin terasa tidak lagi biasa, terasa begitu berharga bagiku. Perasaan ini tumbuh lebih cepat daripada yang kuduga.
        Aku merasa susah karena perasaan ini. Sekuat aku bisa, aku berusaha untuk menyanggah perasaanku padamu, berusaha menghindari kamu dan juga perasaanku sendiri. Namun nyatanya semua sia-sia karena kamu tetap hadir tanpa lelah menghuni seluk beluk benakku.Tiba-tiba saja aku merasa takut dan khawatir akan kehilangan sosokmu, tak bisa kubayangkan apa yang terjadi jika aku harus pergi dari tawamu. Aku sulit jauh darimu, terkadang aku merasa kamu seperti oksigen, hal yang penting dan selalu aku butuhkan, padahal kamu bukan siapa-siapa aku. Terkadang aku heran apa yang menyebabkan aku takut kehilangan yang bukan milikku? Salahkan aku dan perasaanku.
        Tapi.... Entah mengapa aku merasa bahwa kamu tak merasakan yang kurasa. Perasaan kita berbeda. Sikapmu padaku juga berbeda, seakan-akan hadirnya diriku tidak berpengaruh apapun bagimu. Rasa pedulimu pun tidak sedalam rasa peduliku. Apa yang salah dari kita? Apa yang salah dari caraku mengagumimu?
        Mungkin, kamu hanya belum mengerti sedalam apa perasaanku. Jadi, kamu hanya mengabaikan ketulusanku dengan menjauhiku, kamu berusaha terlihat tidak peduli. Salahkah aku tetap menyampaikan harap pada setiap air mata yang menetes untukmu? Salahkah aku memiliki perasaan ini? Pernahkah sekali saja aku ada dalam pikiranmu? Pernahkah sebentar saja kamu memikirkanku? Mungkinkah aku bisa merasakan ketulusanmu? Tolong, sekali saja.
       Kadang aku merasa begitu tolol mengemis cinta padamu. Tetap menyukaimu walaupun entah untuk yang keberapa kalinya aku menangis, tetap mengharapkanmu walaupun itu sia-sia. Jadi lihatlah! Aku begitu tulus, perasaanku tanpa syarat. Tetapi lihat dirimu! Pernahkah aku menjadi sesuatu yang berharga di hatimu?
       Aku tidak berhak berbicara tentang rindu akan hari-hari kebersamaan kita yang menyenangkan karena kamu tak merasakan rindu yang kurasa. Jarak yang sengaja kamu goreskan diantara kita seolah menjadi pertanda bahwa kamu benar-benar ingin menjauhkan aku dari hidupmu.
        Tidaklah menyakitkan jika kamu menolak perasaanku karena yang kupermasalahkan sebenarnya bukan itu.  Kamu tahu apa yang paling menyakitkan saat perasaanmu begitu terikat kepada seseorang? Bukan karena kamu tidak bisa menyatu dengan dia maka kamu akan merasa hidupmu begitu nestapa. Sesuatu yang lebih meluluhlantakkan hatimu adalah ketika seseorang itu pergi menjauh dari hidupmu, membiasakan diri tanpamu atau bahkan orang itu tidak menganggapmu ada sekalipun kamu ada di sampingnya. Seseorang itu tidak ingin kamu terlibat dalam hidupnya, bahkan sekedar untuk diingat. Dan itu perlakuanmu padaku.
        Mungkin, dari awal memang aku yang salah. Aku terlalu cepat menyimpulkan bahwa perhatian kecil yang kau beri padaku adalah bentuk perasaan lebihmu, tanpa tahu bahwa itu hanyalah sebuah perhatian kecil dari seorang teman. Aku yang salah untuk terlalu berharap bahwa kita bisa menyatu tanpa menyadari bahwa kamu tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Aku memang salah.
        Namun, aku juga tidak bisa melupakan janji-janjimu. Ucapanmu ketika mengatakan, "Aku juga suka sama kamu." Terasa begitu semu, terasa seperti ambigu ketika kenyataannya adalah kamu tidak pernah menyukaiku sama sekali. Aku tidak mengerti, janjimu terlalu banyak dan tidak ada satu pun yang kamu tepati. Apakah kita akan berpisah di persimpangan jalan yang telah sama-sama kita bangun?
        Ingatkah perkataanmu dulu yang selalu membuatku nyaman dan tenang? Kamu akhirnya menjatuhkan aku sekeras yang kamu bisa dari kebahagiaan semu yang telah kamu beri. Tak ada artinyakah aku di matamu, sayang, padahal aku telah menganggapmu seseorang yang lebih dari teman, yang begitu bernilai dalam hidupku, dalam setiap napasku dalam setiap detak jantungku. Tetapi aku harus terhempas pada kenyataan bahwa aku bukan siapa-siapa bagimu dan tidak akan pernah menjadi siapa-siapa, selamanya begitu.
        Kini, masih bisakah aku menaruh berjuta harapan yang tak kunjung menjadi nyata? Aku baru menyadari bahwa kamu begitu sulit kuraih, begitu jauh dari genggaman tanganku. Aku harusnya menyadari posisiku saat ini.
        Tenanglah, tidak usah khawatir. Aku bisa memendam perasaan ini. Karena jika aku menjelaskan pun kamu tidak akan pernah mau mencoba untuk mengerti, semua akan menjadi sia-sia. Aku akan berusaha untuk melepaskan segenap harapanku, aku akan berusaha mengubur sisa-sisa kebahagiaan yang hampir musnah itu dalam dasar hatiku, agar tidak ada seorangpun yang bisa mengambilnya kembali. Agar kamu mengerti betapa besar aku berharap.
        Tidak usah kamu ajari aku bagaimana cara merindukanmu, aku lebih tahu. Hatiku lebih sering menafsirkan rasa itu. Tidak usah kamu ajari aku bagaimana caranya melupakanmu karena hari-hariku lebih sibuk mengeja rasa itu. Dan kamu pasti tahu, aku berbohong jika aku bilang bahwa dengan mudahnya aku membenci dan melupakanmu, selamanya aku tidak akan begitu. Kamu pasti tahu kalau aku selalu sulit lepas dari bayang-bayang tentangmu.
        Sekarang menjauhlah, jangan dekati aku lagi. Aku tidak ingin perasaan itu terus-menerus mengiringiku tanpa bisa menjadi nyata. Aku lebih memilih untuk dekat dengan sepi dan luka, biarkan aku sendiri yang mengobati sakit hatiku. Aku lebih mengerti diriku daripada kamu yang tidak pernah mau mencoba untuk mengerti.
        Maafkan aku karena sudah terlalu berharap.